Ngapain Berhenti Pacaran?

Ngapain harus berhenti pacaran?
Karena kita tau, bahwa Allah Maha Pengampun, Maha Pemaaf, Maha Pengasih
Diharamkannya pacaran itu untuk kebaikan kita, supaya hati kita tentram, fokus sama yang Allah halalkan saja, tidak perlu mencari yang haram.
Dan taukah? Allah tidak pelit pelit memberi ampunan, melimpahkan kasih sayangNya.
Imam Ahmad, Imam Muslim, Imam Turmuzi, Imam Nasai, dan Ibnu Jarir telah meriwayatkannya—dengan lafaz seperti berikut— melalui berbagai jalur dari Samak ibnu Harb: Ia pernah mendengar Ibrahim Ibnu Yazid menceritakannya dari Alqamah ibnu Aswad, dari Ibnu Mas’ud yang menceritakan bahwa ada seorang lelaki datang menghadap Rasulullah Saw., lalu bertanya, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku menjumpai seorang wanita di dalam sebuah kebun, lalu aku melakukan segala sesuatu terhadapnya, hanya aku tidak menyetubuhinya. Aku menciuminya dan memeluknya, lain itu tidak; maka hukumlah aku menurut apa yang engkau sukai.”
Rasulullah Saw. tidak menjawab sepatah kata pun, lalu lelaki itu pergi. Dan Umar berkata, “Sesungguhnya Allah memaafkannya jika dia menutupi perbuatan dirinya (yakni tidak menceritakannya).” Pandangan Rasulullah Saw. mengikuti kepergian lelaki itu.
Kemudian beliau bersabda, “Panggillah lelaki itu untuk menghadap kepadaku.” Lalu mereka memanggilnya, dan Rasulullah Saw. membacakan kepadanya ayat berikut, yaitu firman Allah Swt.: Dan dirikanlah salat itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bagian permulaan malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat. (Hud: 114)
Mu’az mengatakan menurut riwayat yang lainnya, bahwa Umar berkata, “Wahai Rasulullah, apakah hal ini khusus baginya, ataukah bagi semua orang?” Rasulullah Saw. menjawab:
“بَلْ لِلنَّاسِ كَافَّةً”
Tidak, bahkan bagi semua orang.
Iklan

Untukmu Lelaki

Wahai Lelaki, berlemah lembutlah terhadap kaum wanita.
Wanita itu seperti gelas gelas kaca yang bening, bila engkau terlalu kasar membersihkannya, ia akan mudah tergores bahkan pecah.
Sebagimana wasiat baginda Rasulullah SAW:
رفقا بالقوارير
“Bersikap lunaklah terhadap gelas gelas kaca”. (HR Al Bukhari)

Wanita merupakan makhluk unik sekaligus penuh pesona. Tanpanya dunia terasa hambar. Namun keberadaannya dapat membawa rahmat sekaligus bencana.

Fitrah yang Allah titipkan padanya berupa fisik yang indah dan hati lembut penuh perasaan mampu menjadi racun sekaligus obat. Maka benar kata pepatah, bahwa nasib suatu peradaban ditentukan oleh wanita wanitanya.

Sehingga secara ringkas, dapat kita simpulkan. Bila ingin memajukan suatu peradaban, yang pertama kali dilakukan adalah memperbaiki wanita wanitanya.

Mendidik wanita bukanlah perkara mudah bak membalikkan telapak tangan. Unik dan rumitnya wanita menjadikan tindakan cermat sekaligus cerdas sangat diperlukan dalam mendidik mereka.

Disini, para pendidik perlu memahami psikologi dan mengerti karakter wanita. Sebab wanita itu bak gelas gelas kaca yang mudah tergores bahkan pecah. Kepribadian satu wanita dengan yang lain juga tak mungkin sama. Maka, kalian yang diamanahi untuk mendidik wanita, jangan menyerah dan memutuskan mencari solusi berupa kekerasan. Berlemah lembutlah, bersabarlah, dan terus teliti dalam menaklukkan kerumitan perasaan wanita.

Kelak, jika kalian para lelaki yang telah mampu mendidik wanita-wanita yang berada di bawah tanggung jawab kalian, berbahagialah. Karena mereka akan menghasilkan generasi-generasi hebat yang akan melanjutkan perjuangan kalian.

Sejatinya, seorang wanita selalu butuh bimbingan kalian hingga akhir hayat mereka. Kerena itulah Allah mengamanahi kalian untuk menjaga Ibunda kalian, terlebih setelah kepergian Ayah.

IG: @sabila_rosyada_

Fb: Sabila Rosyada

#putriabah #EsperesLune #LuneDeEspera #MbakLa #Dekku

Tidak Sedang Menanti

Aku rindu. Padamu yang belum kutau siapa nama & sosokmu.

Saat ini aku tak menanti, tapi tak tau malam nanti atau esok hari.

Aku tak peduli pada teman teman ku yang telah menemukan sandaran hati.

Karena aku cukup tau, engkau di sana sedang memantaskan diri.
Memperbaiki hati untukku dan anak-anak kita nanti.

Satu hal yang amat kutau.
Tugasku kini adalah menjaga diri &menata hati.
Mempersiapkan ilmu & kematangan diri.
Meraup sebanyak banyaknya pelajaran sebagai bekal untuk membersamaimu dalam perjalanan abadi.
.
.
.
.
.
.
Sumber IG: @sabila_rosyada_

Masih Berusaha Mencinta

Sabda Nabi saw, “Seseorang akan bersama dengan yang dia cintai”, jelas-jelas menggambarkan pada kita satu logika yang sederhana. Bahwa cinta itu jalan kebersamaan

Bila cintanya pada satu hal yang baik, maka jadi baiklah dia. Sebaliknya mencintai sesuatu yang buruk akan menjadikannya buruk pula, cinta adalah arah perjalanan

Sebab cinta memberi kekuatan untuk bertahan, menyemangati untuk meniru, menyalakan api kebanggan, menumbuhkan keinginan untuk berkorban lebih dan lebih lagi

Maka tak salah, bila mereka yang mencinta itu buta. Seseorang yang mencintai Rasulullah semisal Abdullah bin Umar, tak henti meniru Rasul bahkan dalam perkara sangat detail

Begitu pula, orang yang mencintai seseorang atau sesuatu takkan pernah berhenti menjadikan kecintaannya sebagai standar atas seluruh aktivitas dan perbuatannya

Apa yang kita cintai? Sudahkah Allah dan Rasul-Nya? Tanya yang lebih penting, bagaimana agar kita bisa mencintai Allah dan Rasul melebihi segala ciptaan-Nya?

Maka ingat bahwa cinta datang dari banyak jalan, salah satu yang paling mujarab adalah jalan terbiasa. Kita mengenal maka kita cinta, witing tresna jalaran saka kulina

Berapa banyak kita habiskan waktu untuk Al-Qur’an hari ini? Membaca dan bertadabbur dengannya? Seberapa tahu kita tentang kisah hidup Rasulullah?

Seberapa banyak kita menggali kehidupan para sahabat? Sedangakn mencintai kekasih saja perlu waktu, sayangnya kita sering tak punya waktu untuk Allah dan Rasul-Nya

Bila belum mampu mencinta, maka berbagilah perasaan dengan saya, sebab saya berusaha mencintai Allah dan Rasul, masih berusaham, sebab masih banyak lain hal yang menyita

Tak apa, kita masih berusaha. Berusaha mencintai Allah dan Rasul-Nya, mencintai dakwah dan jalan perjuangannya. Dan mencintai siapapun yang mencintai Islam

Dan tanda cinta, adalah selalu membicarakannya, tak cukup membanggakannya, sering mengingat dan menyebutnya, serta rela berkorban harta dan jiwa baginya

Author: Ustadz Felix Siauw | @felixsiauw | 18-4-18

Biografi Aisyah radhiyallahu ‘anha Lengkap

Peristiwa sejarah terus terulang dalam rotasi kehidupan, hanya saja terdapat perbedaan dalam tokoh sejarah, latar, dan waktunya. Eksistensi umat Islam dipengaruhi akan kesadaran terhadap sejarahnya. Apabila dikaitkan dengan perkataan Rasul SAW: “Sebaik-baik umatku adalah pada masaku. Kemudian orang-orang setelah mereka (generasi berikutnya), lalu orang-orang yang setelah mereka.”[1] Maka para sahabat dan sahabiyah adalah manusia-manusia terbaik di sepanjang zaman.

Wujud intelektualisme masyarakat muslim dalam mengimprovisasi peradaban Islam adalah kesadaran untuk merekonstruksi sejarah mereka. Termasuk di dalamnya merekonstruksi tokoh-tokohnya. Untuk mengetahui proses Islam menuju kejayaannya, perlu kita perhatikan seluk beluk tokoh-tokoh pejuang kejayaan tersebut. Salah satu tokoh sentral peradaban Islam di masa Rasulullah adalah Ummul Mukminin Aisyah binti Abu Bakar.

Beliau adalah sosok paling faqih dalam urusan agama di antara seluruh umat Muhammad SAW.[2] Ia dikenal sebagai wanita yang sangat cerdas, cekatan, dermawan, zuhud, setia, serta dikenal sebagai wanita yang mampu menjadi penggerak massa (khususnya pada peristiwa perang jamal). Oleh karena itu, penulis ingin mengkaji lebih dalam bagaimana kemuliaan sosok Aisyah r.a serta apa faktor yang melatarbelakangi munculnya seorang As Siddiqah dalam peradaban Islam.

  1. Genealogi

Beliau adalah As-Siddiqah binti as-Siddiq[3], Aisyah binti Imam al-Akbar, Khalifaturrasul, Abu Bakar Abdullah bin Abu Quhfah Utsman bin Amir bin Amr Ka’ab bin Sa’ad bin Taim bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ai bin Fahr bin Malik.[4] Nama ibunda beliau adalah Zainab (Ummu Ruman) binti Amir bin Uwaimir bin Attab bin Adzinah bin Sabi’ bin Wahban bin Harits bin Ghanam bin Malik bin Kinanah.[5] Beliau berasal dari keturunan bani Taim, suku Quraisy dari pihak ayah dan dari kabilah Kinanah dari pihak Ibu.

  1. Kelahiran

Aisyah r.a dilahirkan pada bulan Syawal tahun ke-9 sebelum hijrah, bertepatan dengan bulan Juli tahun 614 Masehi, yaitu akhir tahun ke-5 kenabian. Kelahirannya adalah 8 tahun setelah kelahiran Fatimah binti Muhammad SAW.

  1. Latar belakang keluarga Aisyah

Aisyah r.a tumbuh dalam keluarga yang penuh kemuliaan. Ayahnya, Abu Bakar as-Siddiq adalah seorang laki laki mulia setelah para Nabi dan Rasul.[6] Ia adalah tokoh paling kharismatik sepanjang sejarah Islam setelah Rasulullah. Dialah orang yang paling menyerupai Nabi dalam akhlak dan perilaku beliau.

Ia lebih mencintai Rasulullah dibanding jiwa yang ada dalam raganya, ia senantiasa menyertai beliau, menimba ilmu beliau, meneladani beliau dalam ibadah dan kebiasaan beliau. Ia rela mengorbankan harta dan nyawanya dalam mendukung perjuangan Nabi. Ia menjadi sahabat tercinta dalam hati Rasulullah. Beliau bersabda:

“Sungguh di antara orang yang paling bermurah hati padaku dalam persahabatan dan harta benda adalah Abu Bakar. Andai aku boleh mengambil satu kekasih selain Rabbku, tentu aku jadikan Abu Bakar sebagai kekasihku. Tapi, persaudaraan Islam dan cinta kasihnya (sudah cukup bagiku). Semua pintu yang mengarah ke masjid harus ditutup, selain pintu Abu Bakar.” (HR Bukhari, no. 3654) [7]

Ayah Aisyah merupakan tokoh yang dituakan baik semasa jahiliyah maupun setelah keislamannya. Orang-orang Arab sering meminta pemutusan perkara kepadanya. Ia sangat cerdas dalam bidang sya’ir, prosa, hikayat, dan ia merupakan orang yang paling pandai dalam pernasaban bangsa Arab. Sehingga banyak orang dari semenanjung Arab yang mendatangi beliau untuk menanyakan nasab mereka kepada beliau.[8]

Ibu kandung Aisyah adalah seorang sahabiyah mulia yang berjasa untuk umat ini. Ia biasa dipanggil Ummu Rumman, istri kedua Abu Bakar.[9] Beliau adalah sosok yang dikagumi oleh Rasulullah karena akhlaknya serta sifat pemalunya yang tinggi. Rasulullah SAW bersabda tentangnya:

“Barangsiapa yang ingin melihat wanita yang termasuk wanita bermata jelita (bidadari), maka lihatlah Ummu Ruman.” (HR Ibnu Sa’ad) [10]

Abu Bakar menikahinya setelah suami pertamanya Abdullah bin Harits meninggal. Dari pernikahan mereka, lahirlah Aisyah dan Abdurrahman. Saat ia meninggal, Rasulullah turut ikut turun ke liang beliau kemudian bersabda, “Yaa Allah Engkau mengetahui apa yang dialami Ummu Rumman dalam membela Din-Mu dan Rasul-Mu.”[11]

Saudari Aisyah, Asma’ binti Abu Bakar yang dijuluki dengan Dzatun Nitaqain adalah seorang wanita tangguh. Demi cintanya kepada Islam ia rela bolak-balik mengantarkan bekal hijrah Rasul dan ayahnya di gua Tsur.[12]

Saudara Aisyah adalah Abdurrahman bin Abu Bakar, seorang pemuda pemberani. Ia adalah mata-mata Rasulullah ketika hijrah.[13] Beliau termasuk seorang pemuda yang sangat pandai memanah.[14]

Kakek dari garis ayah Aisyah r.a adalah Abu Quhafah, ia masuk Islam saat penaklukkan Mekah dan meraih kemuliaan mendampingi Nabi. Adapun neneknya dari pihak ayah adalah Ummu Khair, Sulma binti Sakhr yang juga memeluk Islam.[15]

Selain keluarga intinya ketiga bibi Aisyah r.a merupakan sahabiyah Rasul. Mereka adalah; Ummu Amir, Quraibah, dan Ummu Farwah. Mereka bertiga merupakan putri-putri Abu Quhafah. [16]

Aisyah r.a lahir dan tumbuh dalam keluarga yang diliputi cahaya Islam. Orang tuanya telah memeluk agama Islam semenjak ia diahirkan. “Ketika aku akil baligh, kedua orang tuaku telah memeluk Islam”, tuturnya suatu ketika.[17]

Dalam asuhan kelembutan dan kasih sayang dari keluarganya Aisyah menenggak berbagai kebaikan berupa ilmu, kebijaksanaan, kecerdasan, ketajaman firasat. Hingga pada akhirnya kemampuan yang ia miliki melebihi kemampuan anak seusianya.[18] Kedua orangtuanya telah mendapati keberkahan dalam dirinya sejak kecil.

  1. Pernikahan Aisyah

Dua tahun setelah wafatnya Khadijah r.a, datang wahyu kepada Nabi untuk menikahi Aisyah.[19] Aisyah berkata, Rasulullah bersabda: “Aku diperlihatkan kepadamu dalam mimpi selama tiga malam, malaikat Jibril membawa gambarmu dalam sepotong kain sutera, ia kemudian berkata; ‘Ini Istrimu.’ Kemudian aku menyingkap kain dari wajahmu, rupanya kamu, lalu aku berkata, ‘Jika ini ketentuan dari Allah, pasti Ia tunaikan.” (Muttafaq ‘Alaih)[20]

Aisyah r.a menceritakan kronologis[21] pernikahannya, “Ketika Khadijah wafat, Khaulah binti Hakim, istri Utsman bin Madz’un datang kepada Rasulullah, ini terjadi di Makah kemudian berkata, ‘Wahai Rasulullah, kenapa engkau tidak menikah?’, Rasulullah bersabda: “Dengan siapa?”. Khaulah menjawab, ‘Terserah engkau gadis atau janda.’ Beliau menjawab “Siapa gadis dan janda tersebut?”

‘Jika gadis, dialah putri manusia yang paling engkau cintai; Aisyah binti Abu Bakar. Sedangkan janda adalah Saudah binti Zam’ah yang beriman dan mengikutimu.’ Beliau bersabda, “Pergilah engkau kepada Aisyah dan Saudah, kemudian katakanlah pada keduanya engkau mewakiliku.”

Khaulah datang kepada Ummu Rumman dan berkata kepadanya, ‘Wahai Ummu Rumman kebaikan dan keberkahan apa kiranya yang Allah masukkan ke tengah tengah keluarga kalian? Rasulullah menyuruhku melamarkan Aisyah untuk beliau.’ ‘Aku menyetujuinya tapi tunggulah Abu Bakar, sebentar lagi ia akan datang,’ kata Ummu Rumman. Abu Bakar kemudian datang lalu Khaulah bertanya kepadanya seperti yang ditanyakannya kepada Ummu Rumman.

Abu Bakar menggumam, ‘Apa Aisyah pantas untuk beliau sementara ia adalah putri saudaranya sendiri?’ Setelah itu Khaulah menyampaikan perkataan Abu Bakar kepada Rasulullah. Beliau bersabda, “Kembalilah kepada Abu Bakar dan sampaikan kepadanya; ‘Engkau saudara Nabi dan dalam islam dan Nabi adalah saudaramu dan putrimu layak untukku.”

Maksudnya jalinan persaudaraan mereka adalah persaudaraan keimanan, bukan persaudaraan nasab. Sehingga tidak menghalangi pernikahan. Khaulah menemui Abu Bakar, kemudian ia berkata ‘Panggilkan Rasulullah kemari.’ Rasulullah datang kemudian dinikahkan denganku. Saat itu usiaku enam tahun.

Pernikahan Rasulullah dengan Aisyah berlangsung di Makkah setelah beliau membina rumah tangga dengan Saudah binti Zam’ah. [22] Beliau tinggal dan membina rumah tangga dengan Aisyah setelah hijrah di Madinah dan sepulang dari perang Badar pada bulan Syawal. Aisyah menyukai bulan saat pertama kali ia membina rumah tangga dengan Rasulullah. Sampai sampai beliau menganjurkan agar para wanita untuk memulai membina rumah tangga di bulan Syawal.[23]

  1. Rumah Tangga Kenabian

Sepulang dari perang Badar setelah bulan Ramadhan, Aisyah dipertemukan dengan Rasul. [24] Mereka memulai rumah tangga terbaik di dunia nan luas terbentang ini. Mereka menempati sebuah bilik kecil yang jauh dari perabotan perabotan duniawi. Rumah tangga mereka dibimbing oleh wahyu dari langit.

Ibunda Aisyah hidup bersama Rasul dan mempelajari akhlak, ilmu, wara’, kesabaran serta tindak tanduk beliau. Sehingga rumah tangga mereka menjadi rumah tangga sederhana yang penuh dengan berkah. Allah menjamin kebahagiaan karena ketakwaan mereka. Meskipun pada waktu itu berhari hari rumah beliau tidak ada nyala api dan di sana hanya ada kurma dan air.

Aisyah meriwayatkan, ‘Keluarga Muhammad tidak pernah kenyang roti gandum selama dua hari berturut-turut hingga beliau wafat.’ (HR. Al Bukhari, no. 7011)[25]

  1. Pendidikan Rasulullah

Setelah menikah, pendidikan Aisyah beralih ke tangan Rasulullah. Beliau SAW mendidik Aisyah dengan pendidikan cinta yang mengembangkan bakatnya. Rasul sangat memahami psikologi istrinya tersebut. Beliau berbagi ilmu, hikmah dan akhlak kepada istri yang sangat dicintainya itu. Selain itu, beliau juga memberi kesempatan kepada Aisyah untuk menikmati masa kanak kanaknya. Aisyah dibiarkan bermain boneka dan bermain dengan teman-teman sebayanya.

Diriwayatkan dari Aisyah, ia bermain boneka-boneka di dekat Rasulullah. Ia berkata, “Teman-temanku datang, mereka takut kepada Rasulullah. Beliau kemudian menyuruh mereka menghampiriku.” (HR. Al Bukhari, no. 6129) [26]

Aisyah sangat mencintai Rasulullah dan ingin memiliki anak dari beliau, seperti Khadijah. Hari hari berlalu, namun beliau tak kunjung memiliki anak. Rasulullah memahami keinginan Aisyah tersebut, kemudian beliau bersabda kepadanya, “Kenakanlah kuniah keponakanmu; Abdullah bin Zubair.” Akhirnya beliau dipanggil Ummu Abdillah.[27]

Rasulullah SAW juga mendidik akhlak Aisyah r.a, beliau tidak membiarkan istrinya membicarakan harga diri saudarinya. Suatu ketika ibunda kita berkata kepada Rasulullah seraya mengisyaratkan bahwa Ummul Mukminin Shafiyah binti Huyay r.a bertubuh pendek. “Cukuplah bagimu Shafiyah itu begini dan begitu,” maksudnya pendek. Kemudian Rasulullah SAW mengatakan pada istri tercintanya itu, “Sungguh, kamu telah mengucapkan kata-kata yang bila dicampurkan dengan air laut tentu merusaknya.” (HR At Tirmidzi, no. 2505)

Aisyah juga seorang wanita biasa yang bisa cemburu. Misalnya saat beliau mendengar Rasulullah sedang menyebut-nyebut Khadijah, Aisyah berkata kepada beliau, “Bukankah Allah telah memberi anda ganti yang lebih baik darinya wahai Rasulullah?” Beliau menjawab “Allah tidak memberku ganti yang lebih baik darinya. Sungguh ia beriman kepadaku ketika yang lain ingkar. Ia membenarkanku saat orang-orang mendustakan, mendukungku dengan jiwa dan hartanya dan Allah memberiku keturunan darinya.” (HR Bukhari, no 3821)[28]

Setelah mendengar nasehat Rasulullah, Aisyah menjadi sadar bahwa tidak ada tempat bagi kesombongan dan bahwa ucapannya itu salah. Beliau berjanji tidak mengulangi kesalahannya tersebut. Rasul membatasi kecemburuan, egoisme, dan kebanggaan pada diri istrinya. Karena rasa cemburu adalah hal wajar yang ada dalam diri manusia, dan tugas manusia hanya mengarahkannya.

Riwayat-riwayat tentang pendidikan Rasulullah sangat banyak, sehingga tidak mungkin untuk dituliskan dalam makalah sederhana ini. Namun perlu diperhatikan, bahwa beliau adalah sebaik baik dan seadil adil makhluk dalam mendidik seluruh umatnya. Maka bagaimana pendidikan beliau terhadap Aisyah serta istri-istri lainnya tentu lebih baik lagi.

Misalnya tentang ketegasan beliau SAW terhadap istri-istri beliau dalam peristiwa pemberian pilihan. Ketika para istri dengan keinginan alami mereka yang menginginkan kesenangan, mereka menuntut nafkah kepada Nabi hingga menyakiti perasaan beliau SAW. Kemudian beliau memutuskan untuk menyendiri dan mendiamkan mereka semua selama sebulan lamanya, hingga akhirnya Allah turunkan ayat untuk memberi pilihan kepada mereka, memilih rumah tangga nubuwah yang jauh dari kemewahan atau bercerai dari Rasul untuk mencari gemerlap dunia.

Pada hari terakhir masa pendiaman istri istri beliau, pertama kali Nabi mendatangi kediaman Aisyah. Sebelum menyampaikan wahyu Allah tentang pilihan tersebut beliau meminta Aisyah untuk tidak terburu-buru memutuskan dan menyuruhnya berkonsultasi kepada kedua orangtuanya. Kemudian beliau mengutarakan wahyu Allah tentang mereka. Maka Aisyah dengan serta merta memilih bertahan dalam rumah tangga yang berbarokah tersebut.

Aisyah yang cerdas mengetahui maksud halus Rasulullah ketika beliau berpesan untuk tidak terburu buru memutuskan dan memintanya terlebih dahulu bertanya pada orangtuanya. Karena pasti orangtua Aisyah tidak mungkin menyuruh putrinya bercerai dari Rasulullah. Aisyah segera memberikan pilihan saat itu juga dengan tujuan membalas emosi manis suaminya, Rasulullah SAW.[29]

  1. Karakteristik Istimewa

Tumbuh dalam lingkungan yang dinaungi cahaya keimanan menjadikan Aisyah tampil sebagai sosok sempurna. Ia dianugerahi berbagai kelebihan dan keistimewaan khusus dari Allah. Rasulullah bersabda:

“Orang yang mulia dari kalangan laki-laki banyak (ada yang menjadi rasul, nabi, khalifah, wali), namun yang mulia dari kalangan wanita hanyalah Maryam binti Imron dan Asiyah istri Fir’aun, dan (Khadijah binti Khuwailid) dan keutamaan Aisyah atas semua wanita seperti keutamaan tsarid (roti kuah) atas segala makanan.” (HR. Muslim no. 2431) [30]

  1. Kedermawanan Aisyah

Ibunda Aisyah r.a adalah orang yang dermawan lagi gemar bersedekah. Sifat ini diwarisinya dari Ayahnya yang gemar berderma dan dari Ibunya yang senantiasa ridha dengan harta yang dikeluarkan suaminya untuk bersedekah di jalan Allah. [31] Ibnu Zubair mengirimkan uang sebesar 100 ribu dirham kepada Aisyah. Lantas beliau membagi-bagikan uang tersebut kepada banyak orang. Sore harinya, sementara beliau berpuasa, ia memanggil pelayannya untuk menyiapkan makanan untuk berbuka. Namun tak ada persediaan makanan di rumahnya. Si pelayan berkata, ‘Tidak bisakah anda membeli daging untuk kita makan?’ Aisyah menjawab, “Jangan menyalahkanku. Seandainya tadi engkau mengingatkan aku akan menyisakannya.”[32]

  1. Kedudukannya Sebagai Istri Nabi

Aisyah adalah satu satunya istri Nabi yang dinikahi ketika masih gadis, berbeda dengan istri istri beliau yang lain karena mereka dinikahi saat janda. [33] Beliau adalah orang yang paling dicintai oleh Nabi SAW dari kalangan wanita. Suatu ketika Amr bin al Ash bertanya kepada Rasulullah, ‘Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling engkau cintai?’ Beliau menjawab, “Aisyah.” ‘Dari kalangan laki-laki?’ tanya Amr. “Ayahnya.” Jawab beliau. (HR. Al-Bukhari no. 3662 dan Muslim no. 2384)[34]

  1. Pemahaman Agama

Aisyah merupakan wanita yang paling paham terhadap agamanya. Sa’ad bin Sulaiman berkata, dari Abi Usamah, dari Hasyim, dari Ayahnya, ia menuturkan: “Aku tidak menemui  seorangpun yang lebih tau tentang sebab turunnya ayat darinya, dan tidak ada yang lebih pandai darinya tentang ilmu fara’idh, ilmu hadits, ilmu sya’ir, dan ilmu tentang nasab, serta tentang ilmu kedokteran.”[35]

Pemahamannya terhadap agama didukung oleh kecerdasan yang diturunkan oleh kedua orang tua beliau. Selain itu, beliau didik oleh keluarga yang menaruh perhatian terhadap agama. Pernikahannya dengan Rasulullah, dimanfaatkannya untuk mendulang banyak ilmu. Beliau mendengar baik baik apa yang disabdakan Rasul, menghafalnya, memahami makna dan maksudnya, kemudian menyampaikannya.[36]

Beliau juga seorang wanita yang paling banyak meriwayatkan hadits. Dalam waktu 9 tahun[37] selama pernikahannya dengan Nabi, ia telah meriwayatkan sekitar 2.210 hadits. 147 hadits dari beliau disepakati oleh al Bukhari dan Muslim, 45 diriwayatkan oleh al Bukhari saja, dan 86 diriwayatkan oleh Muslim saja. [38]

Aisyah menyamai ayahnya dalam mengikuti berbagai berita, mencari jejak-jejak sejarah, mempelajari sya’ir, hikmah serta nasab-nasab bangsa Arab. Beliau kemudian menjadi sumber ilmu bak ensiklopedi berjalan yang menebar ilmu di manapun ia berada. Ketika menyampaikan ilmu, beliau memiliki gaya bahasa yang indah. Beliau melaksanakan amanah tabligh dan ta’lim sebaik baiknya, melaksanakan fatwa baik dalam permasalahan diin maupun dunia dengan kalimat ringkas yang sarat makna bagaikan cuplikan dari jawami’ul kalim.[39]

  1. Salam Jibril

Pembesar malaikat, yakni Jibril a.s menitip salam kepada ibunda Aisyah r.a. Dari Ibnu Syihab, Abu Salamah berkata, Aisyah berkata, ‘Suatu hari, Rasulullah bersabda, “Wahai Aisy! Ini Jibril, ia mengucapkan salam kepadamu.” Aisyah menjawab, ‘Wa’alaihissalam wa rahmatullahi wa barakatuhu.’ Engkau melihat apa yang tidak aku lihat.’ Rasulullah maksudnya.[40] (Muttafaq ‘Alaih)

  1. Ketegaran Aisyah

Aisyah hidup mendampingi Rasulullah selama kurang lebih 9 tahun dalam kehidupan yang sangat sederhana. Selama kurun waktu tersebut, mereka tidak menemui permasalahan yang mengganggu keharmonisan rumah tangga sampai Rasul berpulang ke sisiNya. Kecuali sebuah peristiwa fitnah terhadap Aisyah yang dikenal dengan peristiwa haditsul ifqi (peristiwa kebohongan).

Peristiwa tersebut muncul sepulang Rasul dari peperangan melawan Bani Musthaliq. Kaum munafik yang dipelopori Abdullah bin Ubay bin Salul menyebarkan kedustaan terhadap Ummul Mukminin. Akhirnya Allah menampakkan ketegaran dan kesabaran Aisyah. Kemudian beliau dibela kesuciannya dari langit ketujuh bahkan Allah menurunkan 16 ayat yang berurutan menjelaskan kesucian Aisyah r.a.

Namun, karena ketawadhu’annya (kerendahan hatinya), Aisyah mengatakan, “Sesungguhnya perkara yang menimpaku atas diriku itu lebih hina bila sampai Allah SWT berfirman tetangku melalui wahyu yang akan senantiasa dibaca.” (HR. Bukhari no. 4141)[41]

  1. Wafatnya Rasulullah

Aisyah menyebutkan, Rasulullah bertanya saat sakit yang menyebabkannya meninggal dunia. “Di mana aku hari ini? Di mana aku besok?” maksudnya adalah giliran Aisyah. [42] Istri istri beliau mempersilahkan beliau tinggal di manapun beliau ingin. Beliau di rumah Aisyah hingga beliau meninggal. Aisyah berkata, ‘Beliau meninggal dunia pada hari giliran di rumahku. Beliau wafat sementara kepala beliau berada di antara leher dan dadaku. Air liur beliau bercampur dengan air liurku.’ Setelah itu ia berkata ‘Abdurrahman bin Abu Bakar masuk membawa siwak, ia mengenakan siwak itu. Rasulullah melihatnya kemudian berkata kepadanya, “Berikan aku siwak itu, wahai Abdurrahman.” Ia memberi siwak itu kepadaku lalu aku melunakkannya dan kuberikan kepada Rasulullah. Rasulullah kemudian bersiwak dengan bersandar di dadaku’.” (Muttafaq ‘Alaih)[43]

Beliau meninggal dalam usia 63 tahun, 40 tahun beliau habiskan sebelum kenabian, 13 tahun setelah kenabian di Makkah, dan 10 tahun di Madinah setelah hijrah. Beliau meninggal pada awal tahun 11 H tanpa meninggalkan satupun dinar, dirham, budak, atau apapun selain bighal putih yang biasa beliau tunggangi, pedang, dan sebidang tanah yang beliau sedekahkan.[44] Beliau SAW dikebumikan di rumah Aisyah.

  1. Dalam Naungan Khalifah Rasyidah

Setelah wafatnya Rasulullah Aisyah berada dalam naungan khilafah Islam. Umat Islam sendiri mengetahui kemuliaan dan kedudukannya yang tinggi. Karena ia adalah kekasih Rasulullah, menara ilmu yang terpancar ke seluruh penjuru dunia.

Ketika ayah beliau, Abu Bakar wafat, Aisyah kembali ditimpa kesedihan yang sangat. Kemudian beliau dimakamkan di samping makam Rasulullah. Kemudian kekhalifahan digantikan oleh Umar bin Khattab. Tatkala ajal telah mendekati, Umar meminta ijin kepada Aisyah untuk dimakamkan di samping Rasulullah dan sahabatnya. Maka Aisyah mengalah dan mengabulkan permintaannya. [45]

  1. Perang Jamal

Ketika terjadi fitnah terkait pembunuhan Utsman bin Affan, khalifah ketiga, Aisyah pergi dengan maksud mendamaikan kubu yang bertikai dan menuntut pelaksanaan hukum qisash terhadap para pembunuh Utsman.

Ketika Aisyah keluar, beliau melewati sumber-sumber air milik Bani Amir pada malam hari. Ia mendengar anjing-anjing menggonggong. Aisyah kemudian bertanya; ‘Mata air apa ini?’, ‘Hau’ab’, jawab orang-orang. ‘Aku harus pulang’, kata beliau. Sebagian orang melarangnya, supaya kaum muslimin berdamai ketika melihatnya.

Namun Aisyah berkata, aku mendengar Rasulullah bersabda: “Bagaimana kiranya bila seorang di antara kalian (istri-istri Nabi) digonggongi anjing-anjing Hau’ab.” (HR. Ahmad)[46]

Beliau sangat menyesal setelah kepergiannya itu. Sampai-sampai saat hendak meninggal dunia, Qais meriwayatkan, Aisyah berkata, sebelumnya ia ingin dimakamkan di rumahnya. ‘Dulu setelah Rasul meninggal, aku melakukan sesuatu (pergi ke perang Jamal). Maka makamkan aku bersama istri-istri beliau (Baqi’).[47]

  1. Wafatnya Aisyah

Aisyah r.a meninggal pada malam selasa, tanggal 17 Ramadhan setelah shalat witir, pada tahun 59 Hijriyah.[48] Ada juga yang berpendapat bahwa beliau wafat pada tahun 57 H[49], dalam usia 63 tahun dan sekian bulan. Beliau dimakamkan selepas shalat witir tepat di perkuburan Baqi’. Para sahabat Anshar berdatangan pada saat itu, bahkan tidak pernah ditemukan satu hari pun yang lebih banyak orang-orang berkumpul padanya daripada hari itu, sampai-sampai penduduk sekitar Madinah turut berdatangan.

Shalat jenazahnya diimami oleh Abu Hurairah dan saat itu Gubernur Madinah adalah Marwan bin Hakam. Ada lima orang yang turun ke dalam liang kuburnya; Abdullah dan Urwah (keduanya anak Zubair), Qasim dan Abdullah (keduanya anak Muhammad bin Abu Bakar Ash-Shiddiq), dan Abdullah bin Abdurrahman bin Abu Bakar Ash-Shiddiq.[50]

Rekonstruksi Sejarah Hidup Aisyah r.a

Riwayat hidup Aisyah mengingatkan kita bahwa untuk menciptakan generasi yang hebat diperlukan persiapan dan proses. Kematangan beliau yang telah nampak sejak belia, mengindikasikan peran kedua orangtuanya yang mengedukasi beliau sejak dalam kandungan serta menciptakan lingkungan keluarga yang kondusif. Selanjutnya orangtua harus memilihkan pasangan hidup yang sholih dan mampu mendidik anaknya. Langkah langkah yang perlu dilakukan:

  1. Memilih pasangan hidup yang berkualitas akhlak serta agamanya.
  2. Menjadi orangtua yang bertakwa.
  3. Berkomitmen mendidik anak dengan takwa.
  4. Memilihkan pasangan hidup yang bertakwa dan mampu melanjutkan peran pendidikan orangtua. Kita harus menanamkan prinsip, bagi seorang mukmin, cukuplah takwa sebagai sebaik-baik bekal.

Kepribadian istimewa yang dimiliki Aisyah merupakan hasil dari serangkaian proses panjang. Kecerdasannya didapat dari kedua orangtua yang cerdas dan beriman, serta pendidikan suaminya, Muhammad sang Rasulullah. Akhlak dan kesholihannya tidak lepas dari faktor genetik dan lingkungan.

[1]Al Bukhari, Shahih Al-Bukhari, (Libanon: Dar al Kotob al Ilmiyah: 2014 M/ 1435 H), jild. 2, hlm. 449, cet. 7

[2] Mahmud Mahdi al-Istanbuli, Mustofa Abu an Nasr asy-Syalabi, Dr. Abdurrahman Raf’at Basya, Mereka Adalah Para Sahabiyat, (Solo: At Tibyan, 2012 M), hlm. 54- 55

[3] Ibnul Atsir, Usudul Ghabah Fii Ma’rifatis Sahabah, (Lebanon: Dar Ibnul Hazm, 2012 M), hlm. 1549, cet. 1

[4] Imam Syamsyuddin Adz Dzahabi, Siyar A’lam an-Nubala, (Lebanon: Dar al-Kotob al-Ilmiyah, 2010), jild.2, hlm. 297-298, Ibnul Atsir, Usudul Ghabah Fii Ma’rifatis Sahabah, hlm. 1550, Ahmad Khalil Jam’ah dan Syaikh Muhammad bin Yusuf ad Dimasyqi, Istri Istri Para Nabi, (Jakarta Timur: Darul Falah, 2002), hlm. 89

[5] Ibid,.

[6] Muhammad Bakr Isma’il, Bidadari 2 Negeri, hlm. 262

[7] Al Bukhari, Shahih Al-Bukhari, jild. 2, hlm. 451

[8] Muhammad Bakr Isma’il, terj: Abu Fawwas Munandar, Bidadari 2 Negeri, hlm. 262

[9] Aisyah Abdurrahman binti Asy-Syati’, An-Nisa’ An-Nabiy, hlm. 73, Beirut: Dar Al Kitab Al ‘Araby, 1979

[10] At Thabaqat, jil. 8, hlm. 276-277, Ahmad Khalil Jamaah, Istri Istri para Nabi, hlm. 335, (Jakarta Timur: Darul Falah, 2002)

[11] Muhammad Bakr Isma’il, Bidadari 2 Negeri, terj: Abu Fawwas Munandar, hlm. 268, (Semanggi: Wacana Ilmiah Press, 2012)

[12] Munawar Chalil, Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad, cet: 4, Jild. 2 A, (Jakarta: Penerbit Bulan Bintang, 1980), hlm. 46

[13] Mahmud Al Misri, Biografi 35 Shahabiyah Nabi, cet: 4, hlm. 121 (Jakarta Timur: Ummul Qura, 2017)

[14] Ibid,. hlm. 113

[15] Ibid,.

[16] Ibid,. hlm. 114

[17] Imam Syamsyuddin Adz Dzahabi, Siyar A’lam…, jild.2, hlm. 310, Ibid,.

[18] Muhammad Bakr Isma’il, Bidadari 2 Negeri, hlm. 263

[19] Ibnul Atsir, Usudul Ghabah Fii Ma’rifatis Sahabah, hlm. 1549, Ibid,. hlm. 264

[20] Al Bukhari, Shahih al Bukhari, Kitab Nikah, no. 7011, jild. 4, hlm. 342

[21] Aisyah Abdurrahman binti Asy-Syati’, An-Nisa’ An-Nabiy, hlm. 72

[22] Syamsyuddin Adz Dzahabi, Siyar A’lamun Nubala, (Lebanon: Dar al Kotob Al Ilmiyah, 2010), cet. 2, jild. 3, hlm. 310

[23] Muhammad Bakr Isma’il, Bidadari 2 Negeri, hlm. 268

[24] Syaikh Mahmud Al Misri, Biografi 35 Shahabiyah Nabi, hlm. 127

[25] Al Bukhari, Shahih al Bukhari, jild. 4, hlm. 454

[26] Ibid., hlm. 116

[27] Aisyah Abdurrahman binti Asy-Syati’, An-Nisa’ An-Nabiy, hlm. 91, Mahmud Al Misri, Biografi 35 Shahabiyah Nabi, hlm. 128

[28] Al-Bukhari, Shahih al Bukhari, jild. 2, hlm. 493

[29] Mahmud Al Misri, Biografi 35 Shahabiyah Nabi, hlm. 147

[30] Muslim bin Hajjaj, Shahih Muslim, (Lebanon: Dar Al Kotob, 2011),  jild. 3, hlm. 98

[31] Muhammad Bakr Ismail, Bidadari 2 Negeri, hlm. 281

[32] Ibid,. hlm. 282

[33] Syaikh Mahmud Al Misri, Biografi 35 Shahabiyah Nabi, hlm. 114, Syamsyuddin Adz Dzahabi, Siyar A’lamun Nubala’, jld. 3, hlm. 310

[34] Al-Bukhari, Shahih al Bukhari, jild. 2, hlm. 452, Muslim bin Hajjaj, Shahih Muslim, jild. 3, hlm. 73

[35] Syamsyuddin Adz Dzahabi, Siyar A’lamun Nubala, jild. 3, hlm. 326

[36] Ibid,.

[37] Muhammad Bakr Isma’il, Bidadari 2 Negeri, hlm. 283-285

[38] Syamsyuddin Adz Dzahabi, Siyar A’lamun Nubala, jild. 3, hlm. 310

[39] Muhammad Bakr Ismail, Bidari 2 Negeri, hlm. 287-288

[40] Al-Bukhari, Sahih al-Bukhari, no. 3768, jild. 2, hlm. 480, Muslim bin Hajjaj, Shahih Muslim, no. 2447, jild. 3, hlm. 104

[41] Al-Bukhari, Sahih al-Bukhari, hlm. 55-64

[42] Muslim bin Hajjaj, Shahih Muslim, no. 2443, jild. 3, hlm. 102

[43] Al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, no. 4450, jild. 3, hlm. 136

[44] Mahmud Al Misri, Biografi 35 Shahabiyah Nabi, cet: 4, hlm. 192

[45] Ibid,. hlm. 203

[46] Mahmud al Misri, Biografi 35 Shahabiyah Nabi, hlm. 203

[47] Ibid,. hlm. 205

[48] Ibid,.

[49] Ibnul Atsir, Usudul Ghabah Fii Ma’rifatis Sahabah, hlm. 1551

[50] Ibid,. http://www.republika.co.id/berita/ramadhan/sirah-sahabat/13/07/05/mpfbe0-aisyah-sang-perawi-hadits

10 Pendapat Ulama Mengenai Makna Kemenangan Dalam Qur’an Surat Al Fath: 1 Dalam Kitab Tafsir Mereka

Oleh: Sabila Rosyada [015. 010. 205]

Allah berfirman:

إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُبِيْنَا

“Sungguh, kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata.” [QS Al Fath: 1]

Para ulama berbeda pendapat dalam menafsirkan ayat tersebut. Oleh karena itu, penulis bermaksud untuk mengkaji beberapa pendapat ulama terkait ayat di atas.

  1. Ad Durrul Mantsur fii Tafsiril Ma’tsur

Diriwayatkan oleh Ahmad, Al-Bukhari, At-Tirmidzi, An-Nasa’i, Ibnu Hiban, Ibnu Mardawaih dari Umar bin Al Khattab, beliau berkata: Kami (para sahabat) bersama Rasulullah SAW dalam suatu perjalanan. Lalu aku meminta sesuatu kepada beliau sebanyak tiga kali, tetapi beliau tidak menjawabku. Kemudian ia berkata kepada dirinya sendiri, “Celakalah kamu, hai anak Al-Khattab. Engkau telah berkali-kali meminta dengan mendesak kepada Rasulullah SAW, dan ternyata beliau tidak menjawabmu.” Umar r.a. melanjutkan kisahnya, “Lalu aku menaiki unta kendaraanku dan memacunya ke arah depan karena khawatir bila diturunkan wahyu mengenai diriku.” Umar r.a. melanjutkan, “Tiba-tiba terdengarlah suara yang memanggilku, lalu aku kembali ke belakang dengan dugaan bahwa telah diturunkan sesuatu (wahyu) mengenai diriku.”

Umar r.a. kembali berkata, lalu Nabi SAW bersabda: “Tadi malam telah diturunkan kepadaku suatu surat yang lebih aku sukai daripada dunia dan seisinya, yaitu: “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata, supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosamu yang telah lalu dan yang akan datang”.”

Anas bin malik dalam riwayat Al-Bukhari dan al-Baihaqi mengatakan bahwa kemenangan yang dimaksud dalam ayat pertama adalah baiat ridwan dalam perjanjian Hudaibiyah. Masih menurut Anas dalam riwayat al-Hakim, Ibnu Mardawaih dan Ibnu Mundzir, beliau berpendapat bahwa kemenangan tersebut adalah Fathu Khaibar. Adapun Al-Barra’ meriwayatkan bahwa yang dimaksud dalam ayat pertama adalah baiat ridwan dalam perjanjian Hudaibiyah. Begitu pula pendapat Abd bin Hamid dari Mujahid.

Diriwayatkan dari Aisyah r.a bahwasannya ketika diturunkan ayat tersebut, Rasulullah sangat bersungguh-sungguh dalam beribadah, kemudian dikatakan kepadanya: Wahai Rasulullah, mengapa engkau begitu bersungguh sungguh dalam beribadah padahal Allah telah mengampuni dosamu yang lalu dan yang akan datang? Beliau SAW menjawab: “Apakah aku tak boleh menjadi hamba yang bersyukur?.” [1]

2. Fathul Qadir

Para ahli tafsir berbeda pendapat dalam menafsirkan firman Allah dalam surat Al Fath ayat 1. Mayoritas ulama  berpendapat bahwa maksud kemenangan dalam ayat tersebut adalah perjanjian Hudaibiyah. Terkadang perjanjian damai disebut dengan fath. Perjanjian damai dengan kaum musyrikin di Hudaibiyah merupakan hal yang layak disebut sebagai kemenangan sampai sampai Allah menyebutnya dengan fath (pembukaan/kemenangan).

Az Zuhri berkata: Tidak ada kemenangan yang lebih besar daripada perjanjian Hudaibiyah. Dimana kaum musyrikin saat itu berbaur dengan umat Islam, mereka mendengarkannya, dan Islam masuk ke dalam hati mereka. Kemudian mereka masuk Islam tiga tahun kemudian dan dari mereka jumlah Islam menjadi banyak.

Asy Sya’bi mengatakan: Dalam perjanjian Hudaibiyah Rasulullah mendapatkan sesuatu yang tidak beliau dapatkan dalam peperangan (ghazwah). Allah mengampuni dosanya yang lalu dan yang akan datang, beliau dibaiat dengan Baiatur Ridwan. Beliau dengan para sahabat menikmati kurma Khaibar. Hewan hadyu yang beliau sembelih sampai pada tempatnya. Kerajaan Romawi menang dari kerajaan Persi, dan umat Islam senang dengan kemenangan kitab dari orang orang majusi.

Akan tetapi ada sebagian ulama yang berpendapat bahwa maksud ayat tersebut adalah Fathu Makkah. Sebagian yang lain ada yang berpendapat bahwa maksudnya adalah Fathu Khaibar. Ada juga yang berpendapat bahwa maksudnya adalah semua penaklukan yang Allah menangkan untuk Rasulullah. Namun pendapat pertama lebih rajih. Sebagaimana yang telah dijelaskan penulis di atas, bahwasannya ayat tersebut turun ketika terjadi perjanjian Hudaibiyah.[2]

3. Al Jami’ Liahkamil Qur’an

Ulama berbeda pendapat dalam mengenai makna fath  dalam ayat ini. Dalam Sahih al Bukhari disebutkan bahwa, diriwayatkan dari Anas bahwa yang di maksud dalam ayat ini adalah perjanjian Hudaibiyah. Adh Dhohak berkata: Allah berfirman “Sungguh kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata.” Maksudnya tanpa peperangan, yakni perjanjian damai.

Ada yang berpendapat makna fathan menunjukkan bahwasannya Makkah ditaklukkan dengan jalan paksa. Karena kata al fathu tidak dipakai kecuali pada apa yang ditaklukkan dengan jalan paksaan. Ibnul Anbari berkata: Kalimat fathan mubina tidaklah mutlak bila disandarkan dengan firman Allah pada ayat selanjutnya liyaghfirallahu laka maa taqaddama, seolah olah artinya: Sesungguhnya aku memberimu kemenangan yang nyata supaya Allah mengumpulkan padamu ampunan bersama kemenangan tersebut.

Az Zamakhsyari berkata: Allah mengumpulkan kemenangan dan ampunan bersama ada empat hal yang Allah kumpulkan, yakni ampunan, penyempurnaan kenikmatan, hidayah jalan yang lurus, serta pertolongan yang mulia. Seolah olah Allah berkata: Aku mudahkan untukmu fathu makkah, dan aku tolong dirimu untuk mengalahkan musuhmu untuk memberimu kemuliaan pada dua alam (dunia-akhirat). Bisa diartikan fathu makkah, berjihad untuk itu membuahkan ampunan dan pahala dari Allah.[3]

4. Jami’ul Bayan ‘An Ta’wili Ayil Qur’an

Ayat pertama dan kedua dalam surat Al Fath barkaitan dengan surat An Nashr 1-3. Bahwasannya Allah memerintahkan untuk bertasbih memuji Rabb dan saat fathu makkah dan ketika Allah memberi pertolongan, serta untuk meminta ampunan kepadaNya karena Ia Maha Pengampun.

Dalam hadits sohih, bahwasannya Rasulullah shalat hingga kedua telapak kakinya bengkak. Lantas dikatakan kepadanya, wahai Rasulullah mengapa engkau melakukan ini? Beliau bersabda: “Apakah aku tak boleh menjadi hamba yang senantiasa bersyukur?.” Ini menunjukkan bahwa benarlah bahwa Allah menjanjikan kepada Nabi-Nya SAW ampunan bagi dosa yang telah lalu dan yang akan datang. Rasulullah bersabda “Aku beristighfar dan memohon ampun setiap hari seratus kali.” Meskipun Allah telah mengabarkan bahwa dirinya telah diampuni atas dosa dosa yang lalu dan yang akan datang. Yaitu dosa dosa sebelum beliau diutus hingga turunnya ayat dalam surat Al Fath tersebut.

Adapun kemenangan yang dimaksud dalam ayat tersebut bermakna perjanjian damai yang terjadi antara Rasulullah dan kaum musyrikin Quraisy di Hudaibiyah. Dikatakan bahwa surat ini turun setelah perjanjian Hudaibiyah diadakan.[4]

5. Darjud Dardir fi Tafsitil Ayil was Suratil Hikmah

Dari Umar bin Al Khattab berkata: Kami (para sahabat) bersama Rasulullah SAW dalam suatu perjalanan. Lalu aku meminta sesuatu kepada beliau sebanyak tiga kali, tetapi beliau tidak menjawabku. Umar r.a. melanjutkan kisahnya, bahwa lalu ia berkata kepada dirinya sendiri, “Celakalah kamu, hai anak Al-Khattab. Engkau telah berkali-kali meminta dengan mendesak kepada Rasulullah SAW, dan ternyata beliau tidak menjawabmu.” Umar r.a. melanjutkan kisahnya, “Lalu aku menaiki unta kendaraanku dan memacunya ke arah depan karena khawatir bila diturunkan wahyu mengenai diriku.” Umar r.a. melanjutkan kisahnya, “Tiba-tiba terdengarlah suara yang memanggilku, lalu aku kembali ke belakang dengan dugaan bahwa telah diturunkan sesuatu (wahyu) mengenai diriku.” Umar r.a. kembali melanjutkan bahwa, lalu Nabi SAW bersabda: “Tadi malam telah diturunkan kepadaku suatu surat yang lebih aku sukai daripada dunia dan seisinya, yaitu: “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata, supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosamu yang telah lalu dan yang akan datang”.” (Al-Fath: 1-2)

6. Tafsir Ahmad Huthaibah

Dalam kepulangan Rasulullah dan para sahabat dari Hudaibiyah Allah menurunkan ayat pertama dari surat Al Fath. Kaum muslimin pulang bersama Nabi SAW dalam keadaan sedih dan merasakan pahitnya kekalahan. Pasalnya mereka telah mendekati ka’bah akan tetapi tidak mampu masuk. Kemudian mereka pulang dengan persyaratan yang terasa seperti bencana dari orang kafir. Lantas Allah menurunkan ayat tersebut.

Umar r.a terheran kemudian bertanya, “Kemenangan seperti apa maksudnya?” Sungguh itu adalah kemenangan yang nyata dari Allah Ta’ala. Ketika mereka melakukan perjanjian damai, kaum musyrikin berkata: “Kaum muslimin Makkah yang mendatangi kalian harus kalian kembalikan kepada kami, dan kaum muslimin Madinah yang murtad kemudian mendatangi kami, maka tidak kami kembalikan kepada kalian, dan hendaknya kalian pulang saja tahun ini dan kembalilah lagi tahun depan.”

Ketika itu rombongan Nabi SAW datang dari Madinah. Ada yang berjalan kaki, ada yang mengendarai onta. Mereka menempuh perjalanan beberapa untuk sampai. Ketika jarak Ka’bah sudah sangat dekat, mereka diusir dan disuruh kembali!

Orang orang kafir merasa sombong di tempat yang seharusnya mereka merendahkan diri (Ka’bah), sehingga Allah menghinakan mereka dalam waktu dua tahun dan menaklukkannya untuk kaum muslimin.

Dalam rentan waktu dua tahun antara perjanjian Hudaibiyah hingga fathu makkah kaum musyrikin banyak yang memeluk Islam. Dalam dua tahun ini, pemeluk Islam mengalami peningkatan lebih banyak dibanding tahun tahun sebelumnya. Demikian janji Allah dalam firmanNya tentang perjanjian Hudaibiyah: “Sungguh telah kuberikan kepada kalian kemenangan yang nyata.” Selanjutnya Allah menaklukkan Makkah pada bulan Ramadhan tahun ke delapan hijriyah ketika kaum kafir melanggar perjanjian mereka dengan Nabi SAW dan membunuh orang orang dari bani Khaza’ah.[5]

7. Tafsir Al Quran Al Karim Al Muqaddim

Surat Al Fath dinamai sebagai bentuk pemberitahuan tentang penaklukan negeri, ibadah haji, serta mukjizat dan beberapa realita kaum muslimin. Kemudian semua hal tersebut dibarengi dengan ampunan, penyempurnaan nikmat, hidayah, pertolongan nyata, dan segala hal yang membehagiakan. Senada dengan ungkapan Muhammad SAW dalam haditsnya, bahwa surat ini adalah surat yang lebih beliau sukai daripada terbitnya matahari.[6]

8. Taisirut Tafsir Lil Qathan

Inna fatahna laka fathan mubina, “Kami telah menolongmu dengan sebaik baik pertolongan di belakangmu.” Yakni dengan adanya perjanjian Hudaibiyah yang menjadi sebab terjadinya fathu Makkah. Imam Az Zuhri berkata: Tidak ada kemenangan yang lebih agung daripada perjanjian damai Hudaibiyah. Di mana kaum musyrikin saat itu berbaur dengan umat Islam, mereka mendengarkannya, dan Islam masuk ke dalam hati mereka. Kemudian mereka masuk Islam tiga tahun kemudian dan dari mereka jumlah Islam menjadi banyak. Tahun itu kaum muslimin datang ke Makkah dengan jumlah 10 ribu orang dalam rangka fathu Makkah.[7]

9. Tafsir As Sam’ani

Firman Allah tentang ayat pertama dari surat Al Fath bermakna, telah Ku putuskan untuk kalian sebuah keputusan yang nyata. Keputusan tersebut berarti pertolongan atas musuh. Fath secara bahasa adalah penaklukan. Yakni penaklukan yang diberikan kepada kaum muslimin, bisa juga berarti penyelesaian masalah.

Mayoritas ulama mengatakan bahwa fath dalam ayat tersebut bermakna perjanjian Hudaibiyah. Jika dipertnyakan, bagaimana perjajian bisa menjadi sebuah kemenangan? Maka jawabannya adalah sebagaimana kisah Umar r.a. Ketika turun ayat ini, Umar bertanya kepada Rasul SAW, Wahai Rasulullah, apakah ia disebut sebagai kemenangan?. Rasul bersabda: “Iya”.

Dikatakan bahwa ia merupakan kemenangan paling agung dalam Islam. Sebab, itu adalah kali pertama terjadinya perdamaian antara muslimin dan musyrikin makkah setelah puluhan tahun mereka bermusuhan. Kaum musyrikin berbaur dengan umat Islam, dan mereka mendengarkan Al Qur’an. Kemudian banyak dari mereka yang kemudian memeluk Islam selama masa damai itu, bahkan jumlahnya lebih banyak dari pada semasa peperangan.

Dalam Hudaibiyah, ada Baiat Ridwan, kemudian ada janji ditaklukkannya Makkah untuk kaum muslimin, serta berita kemenangan Romawi yang ahli kitab mengalahkan Persi imperium musyrik Majusi. Hal tersebut merupakan keajaiban dan mukjizat Rasul. Kejadian kejadian tersebut membahagiakan kaum muslimin dan menyusahkan hati kaum musyrikin.[8]

10. Tafsirul Maturidi Ta’wilat Ahlis Sunnah

Fathan Mubina Sebagian berkata: artinya fathu Makkah. Sebagian lain berkata: perjanjian Hudaibiyah antara Rasul dan masyarakat Makkah saat mereka hendak masuk Makkah untuk berhaji. Ada dua kejadian terkait ayat ini:

Pertama, para sahabat ditimpa kehausan, kemudian mereka mencari sumber air. Kemudian Allah berikan keajaiban, diberkahinya sebuah sumur yang semula kering kemudian menjadi berair hingga cukup untuk minum 1500 orang.

Kedua, kabar tentang kekalahan Persi melawan Romawi. Hal ini termasuk ilmu ghaib yang Allah sampaikan kepada Muhammad SAW.

Perjanjian damai tersebut adalah antara Rasulullah SAW dengan kaum musyrik. Dalam hal tersebut tidak ada peperangan, seumpama ada, maka kami telah berperang saat itu. Lantas Allah menurunkan surat Al Fath. [9]

[1] Jalaluddin Abdurrahman bin Abi Bakr As-Suyuti, Ad Durul Mantsur fii Tafsiiril Ma’tsur, jild. 6, hlm. 59, (Beirut: Dar Al Kotoob Al Ilmiyah, 2004)

[2] Imam Muhammad Ali bin Muhammad Asy Syaukani, Fathul Qadir, jild. 2, hlm. 684 (Beirut: Dar Al Kotob Al Ilmiyah, 2003)

[3] Abi Abdillah Muhammad bin Ahmad bin Abi Bakr Al Qurtbi, Al-Jami’ Liahkamil Qur’an, jild. 19, hlm. 297-299 (Beirut: Risalah Publisher, 2006)

[4] Abu Ja’far Muhammad bin Jarir At Thabari, Tafsir At Thabari, jild. 21, hlm. 237-238 (Mesir: Markaz Al Buhuts wad Dirasah Al Arabiyah wal Islamiyah, 2001)

[5] Ahmad Khuthaibah, Tafsir Ahmad Khuthaibah, jild. 22,  hlm. 2 (Maktabah Syamilah)

[6] Tafsir Al Quranul Karim Al Muqaddam, jild. 121, hlm. 4 (Maktabah Syamilah)

[7] Al Qathan, Taisirut Tafsir Lil Qathan, jild. 3, hlm. 247 (Maktabah Syamilah)

[8] Abu Mudzafar Al Mansur Muhammad As Sam’ani, Tafsir As Sam’ani, jild. 5, hlm. 188 (Maktabah Syamilah)

[9] Muhammad bin Muhammad bin Mahmud Abu Mansur Al Maturidi, Tafsirul Maturidi Ta’wilat Ahlis Sunnah, jild. 9, hlm. 290 (Beirut: Dar Al Kotob Al Ilmiyah, 2005)

Aib Guruku

Guru juga manusia. Mereka pasti pernah melakukan kesalahan. Entah yang kita tau, atau tak kita ketahui (jangan-jangan kita sengaja mencari-cari aib guru kita? hahah.. astaghfirullah). Bila Allah menampakkan kekeliruan mereka di hadapan kita, berarti Allah sedang menguji. Seberapa kadar kelembutan dan kebaikan hati kita.

Para guru kita terdahulu sangat menghormati guru-guru mereka. Mereka mengajarkan kita sebuah sikap yang subhanallah teramat mulia. Bilamana kita tak sengaja mengetahui aib guru kita  maka sebaiknya kita berucap do’a:

 اللهم استر عيب معلمي عني ، ولا تذهب بركة علمه مني

“Ya Allah tutuplah aib guruku dari mataku (sehingga aku tidak melihat kekurangan pada diriguruku. Dan jangan sampai ada seorang pun yang memberitahukan aib guruku)  dan jangan sampai hilang keberkahan ilmunya dariku”.

Mereka (Ulama terdahulu) mengucapkan doa tersebut ketika berjalan menuju tempat gurunya, beliau bersedekah kepada orang yang ditemuinya.Mereka khawatir jika mengetahui kekurangan gurunya akan mengurangi rasa hormat pada gurunya.

Kalau kita biasa mempraktekkan adab-adab terhadap guru kita, maka percayalah ilmu ilmu yang kita miliki akan selalu berbuah kebaikan dan kebaikan. Bukankah itu salah satu tanda keberkahan Ilmu? Hahah.. 😀
Wallahu A’lam

Hak Cipta, Penulis: Sabila Rosyada
Sumber: Imam Nawawi – Al Majmu’ syarh al Muhadzdzab